UNGASAN – Hujan deras yang disertai angin kencang melanda kawasan selatan Pulau Bali sejak Selasa malam hingga Rabu sore, 21 Januari 2026.
Wilayah Ungasan dan sekitarnya menjadi salah satu area yang merasakan dampak cukup signifikan dari kondisi cuaca tersebut.
Intensitas hujan yang berlangsung cukup lama, disertai hembusan angin kuat, menyebabkan jarak pandang berkurang serta mengganggu aktivitas warga, khususnya pada jam-jam sibuk.
Fenomena ini dinilai tidak bersifat sesaat. Sejak malam hari, hujan turun secara berkelanjutan dengan intensitas yang bervariasi, mulai dari ringan hingga lebat.
Kondisi tersebut memicu genangan air di sejumlah titik, terutama di kawasan dengan sistem drainase terbatas, serta meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi, khususnya di wilayah perbukitan dan daerah aliran sungai.
Baca juga:
🔗 Cuaca Ekstrem Masih Berpotensi Terjadi di Bali hingga Jumat, 16 Januari 2025
Di media sosial, berbagai unggahan warga memperlihatkan dampak nyata dari hujan dan angin kencang yang melanda Bali.
Salah satu kejadian yang cukup menyita perhatian terjadi di Kabupaten Tabanan, di mana dilaporkan sebuah rumah hanyut akibat derasnya aliran air yang meluap secara tiba-tiba.
Peristiwa tersebut memperlihatkan kuatnya arus air hujan yang tidak mampu lagi tertampung oleh saluran alami.
Selain itu, di wilayah Baru Bulan, atap rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat terpaan angin kencang yang datang secara mendadak.
Beberapa bangunan semi permanen dilaporkan tidak mampu menahan tekanan angin, sementara pohon-pohon besar di sejumlah titik tumbang dan menutup akses jalan, memicu kemacetan dan menghambat mobilitas warga.
Tak hanya permukiman, cuaca ekstrem ini juga berpotensi mengganggu jaringan listrik dan komunikasi.
Beberapa wilayah dilaporkan mengalami pemadaman listrik sementara akibat gangguan pada jaringan distribusi.
Aktivitas ekonomi, termasuk sektor pariwisata, turut terdampak, terutama pada destinasi wisata terbuka dan kawasan pantai yang rawan gelombang tinggi serta angin kencang.
Baca juga:
🔗 Listrik Padam di Ungasan, Malam Gelap yang Berubah Menjadi Ruang Belajar Keluarga
Cuaca buruk juga berdampak pada aktivitas laut di wilayah selatan Bali. Nelayan tradisional dan pelaku jasa wisata bahari diimbau untuk menunda aktivitas melaut karena meningkatnya risiko gelombang tinggi dan angin kencang.
Kondisi laut yang tidak bersahabat dikhawatirkan membahayakan keselamatan pelayaran, khususnya bagi perahu kecil dan kapal wisata.
Sementara itu, pengguna jalan diminta meningkatkan kewaspadaan karena hujan lebat berpotensi menyebabkan jalan licin, genangan air, serta tanah longsor di jalur-jalur tertentu, terutama pada ruas jalan dengan kontur menanjak dan menurun.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar melalui Update Peringatan Dini Cuaca Wilayah Bali yang dirilis pada Selasa, 21 Januari 2026 pukul 16.55 WITA, menyampaikan bahwa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang diperkirakan terjadi mulai pukul 17.00 WITA.
Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Kabupaten Jembrana (Melaya), Kabupaten Tabanan (Pupuan), Kabupaten Badung (Kuta dan Abiansemal), Kabupaten Gianyar (Sukawati dan Blahbatuh), Kabupaten Klungkung (Nusa Penida), Kabupaten Bangli (Kintamani), Kabupaten Buleleng (Gerokgak, Busungbiu, Kubutambahan), serta Kota Denpasar (Denpasar Selatan).
BMKG juga menyebutkan bahwa kondisi cuaca buruk ini dapat meluas ke hampir seluruh wilayah Bali dan diperkirakan masih berlangsung hingga pukul 19.30 WITA.
Namun, tidak menutup kemungkinan durasi dan intensitas hujan dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan berhati-hati dalam beraktivitas, khususnya bagi warga yang tinggal di daerah rawan banjir, longsor, dan angin kencang.
Masyarakat diminta mengamankan barang-barang yang berpotensi terbawa angin, memangkas pohon yang rawan tumbang, serta menghindari berteduh di bawah pohon atau baliho saat hujan disertai angin.
Warga juga diharapkan terus memantau perkembangan informasi cuaca dari sumber resmi BMKG serta mengikuti arahan dari aparat setempat.
Pembatasan aktivitas di luar ruangan dianjurkan apabila tidak bersifat mendesak, guna meminimalkan risiko kecelakaan dan dampak yang ditimbulkan oleh cuaca ekstrem.
Cuaca ekstrem yang melanda Bali ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim dan dinamika musim hujan, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi.