Isu sampah kembali menjadi sorotan di Bali. Hampir setiap tahun, persoalan ini hadir sebagai tantangan nyata, terutama ketika musim hujan tiba dan kiriman sampah menumpuk di pesisir.
Pantai yang menjadi wajah pariwisata Bali kerap tercoreng oleh persoalan klasik yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Namun di tengah situasi tersebut, kolaborasi antara komunitas lingkungan BumiKita dan pihak Mövenpick menghadirkan harapan baru.
Pertemuan ini bukan sekadar agenda formal, melainkan ruang dialog yang mempertemukan idealisme aktivis lingkungan dengan komitmen dunia usaha.
Sebuah langkah kecil yang menyiratkan makna besar, menjaga Bali bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan kerja bersama.
Baca juga:
🔗 Komunitas BumiKita: Bergerak Sebelum Isu Menjadi Viral
Permasalahan sampah di Bali bukan lagi isu sesaat. Ia telah menjadi tantangan tahunan yang berulang. Pertumbuhan sektor pariwisata, peningkatan konsumsi, serta kebiasaan penggunaan plastik sekali pakai memperparah situasi.
Tanpa perubahan pola pikir dan pola hidup, persoalan ini akan terus menjadi lingkaran yang sulit diputus.
Karena itu, pendekatan yang dibutuhkan bukan hanya aksi bersih-bersih, tetapi perubahan budaya.
Kesadaran harus dibangun dari hulu hingga hilir dari individu, komunitas, hingga perusahaan besar yang beroperasi di Bali.
Baca juga:
🔗 Isu Sampah di Bali Masih Mendesak, Penutupan TPA Suwung Belum Temukan Solusi Pengganti
Wayan Aksara, aktivis sekaligus pegiat lingkungan dari BumiKita, dalam pertemuan tersebut menekankan bahwa solusi lingkungan harus dimulai dari langkah yang sederhana namun konsisten.
Menurutnya, membangun budaya meminimalkan sampah adalah fondasi utama. Edukasi kepada generasi muda menjadi kunci agar kebiasaan ramah lingkungan tertanam sejak dini.
Salah satu contoh konkret yang disampaikan adalah membiasakan diri membawa tumbler dan tas kain dalam aktivitas sehari-hari.
Dengan membawa tumbler pribadi, masyarakat dapat mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.
Hal ini akan semakin efektif jika didukung dengan fasilitas pengisian ulang air minum yang memadai dan mudah dijangkau di ruang-ruang publik maupun hotel.
Begitu pula dengan tas kain yang dapat menggantikan kantong plastik. Kebiasaan kecil ini, jika dilakukan secara masif, mampu menekan jumlah sampah plastik secara signifikan.
“Perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Justru dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama, dampaknya bisa luar biasa,” tegas Wayan Aksara.
Ia juga menambahkan bahwa kepedulian lingkungan bukan tren sesaat, melainkan tanggung jawab moral untuk menjaga Bali sebagai warisan bagi generasi mendatang.
Baca juga:
🔗 Wayan Aksara: Sampah, Budaya, dan Tanggung Jawab Moral
Dari sisi korporasi, Dedy Sulistiyanto selaku Manager Marketing & Communications Mövenpick menyampaikan bahwa prinsip keberlanjutan bukan sekadar komitmen formal, melainkan telah menjadi bagian integral dari visi dan arah perusahaan.
Sebagai pelaku usaha di sektor pariwisata, mereka menyadari bahwa kelestarian alam Bali memiliki keterkaitan erat dengan keberlangsungan bisnis dalam jangka panjang.
Beberapa langkah konkret yang telah diterapkan antara lain penggunaan panel surya sebagai sumber energi alternatif untuk mendukung kebutuhan listrik.
Langkah ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada energi konvensional, tetapi juga menekan emisi karbon.
Selain itu, penggantian plastik sekali pakai dengan material berbahan bambu menjadi wujud nyata komitmen dalam mengurangi penggunaan material berbasis plastik.
Mövenpick juga memanfaatkan ruang terbuka hijau sebagai bagian dari desain dan pengelolaan properti, menciptakan lingkungan yang lebih sejuk, alami, dan ramah bagi ekosistem sekitar.
“Kami percaya bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari profit, tetapi juga dari kontribusi terhadap lingkungan dan masyarakat,” ungkap Dedy.
Menurutnya, kolaborasi dengan komunitas seperti BumiKita menjadi penting agar program keberlanjutan tidak berjalan sendiri, melainkan terintegrasi dengan gerakan masyarakat.
Pertemuan antara BumiKita dan Mövenpick menjadi contoh bahwa aktivis lingkungan dan dunia usaha tidak harus berjalan di jalur yang berbeda.
Justru ketika keduanya bersinergi, dampak yang dihasilkan bisa lebih luas dan berkelanjutan. Aktivis membawa kesadaran, idealisme, dan dorongan perubahan, sementara perusahaan memiliki sumber daya, jaringan, dan kemampuan implementasi dalam skala yang lebih besar.
Kolaborasi ini juga membuka ruang edukasi bagi tamu hotel, staf, dan masyarakat sekitar untuk terlibat aktif dalam praktik ramah lingkungan. Dengan demikian, pesan keberlanjutan menyebar lebih luas, melampaui batas komunitas tertentu.
Baca juga:
🔗 Di Balik Isu Sampah, Sudut Lain Wajah Bali
Lebih dari sekadar destinasi wisata, Bali adalah rumah. Rumah bagi masyarakat lokal, pelaku usaha, para pekerja pariwisata, hingga mereka yang datang dan jatuh cinta pada pulau ini.
Kesadaran bahwa Bali adalah rumah bersama menjadi landasan moral dalam menjaga kelestariannya.
Jika rumah sendiri tidak dirawat, maka perlahan ia akan kehilangan keindahan dan kenyamanannya.
Pertemuan ini menjadi simbol bahwa kepedulian perusahaan dan aktivis lingkungan dapat berjalan beriringan.
Bahwa menjaga Bali bukan sekadar slogan, tetapi komitmen yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
Harapannya, kolaborasi ini tidak berhenti pada satu pertemuan, melainkan berlanjut dalam program-program konkret yang melibatkan lebih banyak pihak.
Karena masa depan Bali tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi oleh kesadaran kolektif setiap individu dan institusi yang hidup serta beraktivitas di dalamnya.
Dan mungkin, dari langkah kecil seperti membawa tumbler dan menanam panel surya, perubahan besar itu perlahan tumbuh untuk Bali yang lebih bersih, lebih hijau, dan lebih berkelanjutan.