Sebuah Perenungan tentang Perjalanan di Dunia Jurnalistik

Penggalan kata dari sebuah novel yang menyentuh dan mengingatkan pada perjalanan yang pernah dilalui.
Penggalan kata dari sebuah novel yang terasa begitu menyentuh ketika dibaca, seolah mengingatkan kembali pada perjalanan yang pernah dilalui. (Foto: Dokumentasi)

Ada salah satu bagian dari sebuah novel yang ketika saya membaca bagian awalnya, entah mengapa terasa begitu menyentuh.

Kalimat-kalimatnya seperti membawa saya kembali pada perjalanan panjang dan dinamika ketika pernah menjalani dunia jurnalistik.

Bekerja di dunia jurnalistik bukan hanya tentang menulis berita atau menghasilkan sebuah foto. Di dalamnya ada mental yang harus kuat, passion, ketekunan, keberanian, rasa ingin tahu, dan tentu saja kerja keras.

Ada banyak cerita yang lahir dari profesi ini. Mengejar waktu, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, berada di tengah situasi yang tidak selalu nyaman, menghadapi tekanan, bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang, serta menyaksikan begitu banyak peristiwa yang mungkin tidak akan pernah ditemukan dalam pekerjaan lain.

Baca juga:
🔗 Dua Dekade Meniti Jalan di Dunia Jurnalistik Bali

Ketika Tugas Membawa pada Risiko

Belakangan ini dunia jurnalistik kembali diingatkan pada sisi lain dari profesi tersebut. Lima jurnalis bersama tiga orang kru kapal dilaporkan hilang kontak saat melakukan peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.

Mereka berangkat menggunakan speedboat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB.

Salah seorang dari rombongan sempat mengirimkan lokasi terakhir sekitar pukul 14.42 WIB. Komunikasi kemudian terputus sekitar pukul 15.04 WIB. Hingga kini, operasi pencarian masih dilakukan oleh tim SAR gabungan.

Peristiwa ini tentu menjadi perhatian besar bagi keluarga, rekan sesama jurnalis, dan masyarakat pers. Bukan hanya karena mereka sedang menjalankan tugas, tetapi juga karena di balik sebuah liputan selalu ada manusia yang pulang kepada keluarganya.

Peliputan di lapangan memang memiliki dinamika dan risiko yang tidak selalu terlihat dari hasil berita atau foto yang kemudian sampai kepada pembaca.

Apa yang tampak sebagai sebuah berita beberapa menit atau beberapa jam kemudian, sering kali lahir dari perjalanan panjang, keputusan cepat, keberanian, dan situasi yang tidak mudah diprediksi.

Baca juga:
🔗 Arbas Barong dan Catatan tentang Risiko di Balik Lensa

Menjadi Jurnalis adalah Belajar tentang Manusia

Saya pernah merasakan sebagian dari perjalanan itu. Pernah menjadi bagian dari beberapa media, mengejar berita, membawa kamera ke berbagai tempat, bertemu banyak orang, dan mendengarkan cerita-cerita mereka.

Ada peristiwa besar, ada pula kejadian sederhana yang justru meninggalkan kesan mendalam.

Dunia jurnalistik mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki cerita. Seorang pejabat, pedagang kecil, masyarakat di pelosok, korban sebuah peristiwa, hingga orang yang secara tidak sengaja kita temui di perjalanan, semuanya mempunyai sisi kemanusiaan yang menarik untuk dilihat dan didengar.

Mungkin itu pula yang membuat profesi ini sulit benar-benar dilupakan. Sebab menjadi jurnalis bukan sekadar soal menghasilkan berita.

Ada proses belajar melihat kehidupan dari berbagai sudut. Belajar mendengar sebelum menulis, belajar bertanya tanpa menghakimi, dan belajar memahami bahwa di balik sebuah peristiwa selalu ada manusia.

Salut untuk Mereka yang Masih Bertahan

Saya memberikan rasa hormat kepada kawan-kawan yang sampai hari ini masih setia menekuni dunia jurnalistik.

Tetap menjaga idealisme, terus belajar, mengikuti perubahan zaman, dan menjalani profesi ini dengan segala dinamikanya bukanlah perjalanan yang selalu mudah.

Setiap generasi jurnalis tentu memiliki tantangannya sendiri. Teknologi berubah, cara orang mendapatkan informasi berubah, media berubah, tetapi kebutuhan terhadap informasi yang benar dan kerja jurnalistik di lapangan tetap memiliki tempat penting.

Bagi mereka yang masih berada di dalamnya, perjalanan itu mungkin masih panjang. Teruslah bekerja dengan hati-hati, tetap menjaga profesionalisme, dan jangan lupa bahwa di balik setiap tugas ada keluarga yang menunggu kepulangan.

Pernah Menjadi Bagian dari Perjalanan

Kalau saya, mungkin cukup pernah mencoba. Pernah menjadi bagian dari beberapa media. Pernah merasakan ritmenya, mengejar berita, membawa kamera ke berbagai tempat, menunggu sebuah momentum, dan bertemu begitu banyak manusia dengan cerita masing-masing.

Kini jalannya sudah berbeda. Namun pengalaman itu tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saya.

Ada banyak hal yang saya bawa hingga hari ini: cara melihat sebuah peristiwa, cara membaca manusia, cara menghargai sebuah cerita, dan cara memahami bahwa tidak semua hal harus dikejar.

Bagi saya, pernah menjadi jurnalis bukan sekadar pernah memiliki sebuah pekerjaan. Ia adalah bagian dari perjalanan hidup.

Sebuah masa ketika kamera menjadi teman perjalanan, berita menjadi alasan untuk bergerak, dan manusia menjadi pelajaran yang tidak pernah selesai.

Mungkin saya sudah tidak lagi berada di dalam ritme itu. Tetapi ketika membaca kembali sebuah tulisan, melihat sebuah foto, atau mendengar kabar tentang kawan-kawan yang masih berada di lapangan, selalu ada bagian kecil dalam diri saya yang kembali ke masa itu.

Masa ketika saya belajar bahwa dunia begitu luas, manusia begitu beragam, dan kehidupan selalu memiliki cerita untuk diceritakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *